Selamat Datang Di Blog Pribadi Aisyha Nazaara Assha Septiandra | Buku harian yang dipublikasikan

Minggu, 25 Januari 2026

MENENGAH KEMBALI

Sama seperti 'Menengah Terakhir' namun kali ini hanya Nanda tanpa Syaden.

Dia tidak ke Bogor sepertinya. Biarkan Syaden fokus kuliah, aku doakan agar selalu dimudahkan dalam setiap langkah.

Desta pun begitu, tidak datang. ADFF tidak datang. 

Sabtu, 24 Januari 2026

NON KONTRADIKTIF

Exsynus nama acaranya.

Diskusi ringan, di tempat aku bersekolah dulu, bersama temanku, sangat cantik dan cerdas (Kezya Ananta-UNUD). Pokok pembicaraan yang seru, 'perspektif kerja dan kuliah'. Aku menyadari kesalahanku, yang agak gugup karena terbawa sedikit masalah, sehingga 30% argumenku tidak masuk dengan pertanyaan dari MC. Aku hampir tidak pernah begitu. Aku memohon ampun kepada Allah atas segala dosa yang ku perbuat.

Yang jelas, menurutku kuliah dan kerja tidak kontradiktif, melainkan selaras dan sama sama harus diperjuangkan.

Jika kurang jelas argumenku yang kemaren, maka inilah pointnya :

1. Terkait cara menghilangkan rasa Insecure ktika melihat pencapaian orang, sedangkan kita gini² aja. aku bilang, insecure itu garis besarnya takut. cari tau dulu apa ketakutanmu, lalu lawan. Caranya lakukan terus hal yg kamu takuti, hingga nanti kamu mati rasa terhadap rasa takut itu. Kalau sudah begitu, baru bisa bersyukur untuk melahirkan rasa secure.

2. Apakah lulusan SMA itu bisa menjadi penghambat karir? aku jawab ya, dibeberapa kasus, berdasarkan pengalamanku, untuk promosi jabatan, bisa agak sulit karena terhalang di strata pendidikan. Tapi tenang saja jika kita memiliki skill yang bagus. Peduli setan tentang jenjang pendidikan, kadang perusahaan lebih memperhatikan solusi relevan yang bisa kita beri. 

3. Jangan pernah takut gagal. Mumpung masih muda, risikonya masih sedikit. kalau sudah tua atau sudah punya pasangan, serong kiri pun akan sama seperti belok kiri.


♡♡♡

MC salah menyebut jabatanku, mereka bilang 'Freelance' (itu kan ketika 2024/11 SMA), sekarang aku sudah kerja purna waktu. Tapi tidak apa apa. Hanya salah jabatan duniawi saja hahaha.

"Aisyha Nazaara, Freelance di..."
Tidak ada yang bertepuk tangan. 

Cukup sunyi untuk sebuah pembukaan.

Berbeda ketika nama Kezya disebutkan, dengan gelar 'Univ Udayana' di belakangnya. Tepuk tangan bergemuruh seruangan. Ini wajar dalam gap kerja-kuliah. 

Saat itu, aku memperhatikan wajah² adik kelasku. Mereka bosan. Aku bilang "Tepuk tangan buat yang masih suka takut kalo ditanya : Lulus SMA mau kemana?"

Seperti yang kuduga, banyak yang bertepuk tangan. Itung itung penghilang ngantuk.

Jelas dari wajah² itu juga, terlihat harapan dan keinginan berkuliah. Aku yakin Allah akan mengabulkan keinginan mereka. 

Aku juga pernah berharap begitu, di tempat yang sama. Melihat alumni memakai almet kebanggaannya. Aku ingin kuliah.

Hanya saja, Allah menunda keinginanku itu, dan malah memenuhi segala yang aku butuhkan. 

Ayah said "Keinginan harus dibatasi, kebutuhan wajib dipenuhi"

Saat itu, jelas Allah tau, kuliah itu keinginanku. Yang aku butuhkan adalah cara agar bisa berkuliah. 

Dan bekerja adalah caranya.

Kurang dari setahun, jika memang sudah butuh dan sudah waktunya...

Kun fayakun.

Aku berkuliah. S1 Ilmu Komunikasi.

Mohon keridhoannya Ya Allah.

Janji ga akan ngeluh.
Sedikitpun.

Janji ga akan sibuk 
kalo lagi dibutuhin orang lain.

Janji tetep konsisten sama tujuan.

Makasih Ya Allah.

Jumat, 26 September 2025

IF THIS IS MY LAST

Hidup ini tak pernah berjanji apa apa, kecuali...bahwa semuanya akan selesai, entah kapan.

Hari ini, izinkan aku menulis sejujurnya. Seolah-olah aku akan mati besok, dan tak sempat lagi menjelaskan apa pun pada siapa pun.

Aku meminta maaf dengan sangat kepada ibu dan ayahku. Unik sekali, kami semua anak pertama. Semuanya sama, dari rasa bahagia hingga rasa trauma. Maaf jika aku sering mengecewakan, selama jadi anak terlalu banyak rasa takut dan minim keberanian.

Ada banyak kalimat yang tercekat ketika aku ingin mengungkapkan ke ayah dan ibu. Itulah sebabnya jadi terdengar tidak enak dan berujung membuat sakit hati.

Terimakasih yah, bu, karena telah menjadi sebaik-baik contoh untukku. Di dunia luar, aku sering dipuji, dan dengan bangganya aku mengatakan "Oh iya, kebaikanku ini karena didikan dari ayah dan ibuku"

Aku tidak pernah menangis di hadapan dunia. Tapi, rumah ini, menajdi tempat teraman, tempat ternyaman yang kerap kali dibanjiri air mataku. Aku bersyukur karena ibu selalu bersedia menghapus air mataku. Ibu tidak suka air mata, "Kamu harus kuat" katanya.

Aku hidup hingga saat ini, dan aku berjanji, hanya akan mati jika Tuhan sudah menyiapkan surga untukku.





Selasa, 15 Juli 2025

BIMANTARA'S PHILOSOPIE

Bagaimana awalnya?
Aku duduk di kursi paling depan ketika Bu Guru Kimia memperkenalkan murid baru.

Dia masuk dengan postur tinggi, kulit putih, rambut rapi, dan sepasang mata yang tak pernah bisa fokus pada satu titik.

"Farel Ari Bimantara," Murid baru itu  menyebutkan namanya dengan senyuman. Itu seakan memberi kesan bahwa dia tidak terbebani dengan apa pun, seolah segala hal yang datang padanya hanya seperti angin yang lewat begitu saja.

"Kiw, udah punya pacar belum?" tanya Maureen, dengan nada jenaka yang sudah menjadi ciri khasnya. 

Anak-anak yang lain di kelas menyoraki, tertawa, dan menganggapnya sebagai lelucon. Aku hanya diam, memikirkan hal lain.

Aku teringat arti kata 'bima' dalam bahasa Jawa, seperti penguasa, seorang yang berkuasa. Tapi apakah memang itu maksud namanya? Entahlah.

Lambat laun, aku mulai mengenal Farel. meskipun baru di permukaan. Ia ternyata bukan sosok yang tenang seperti senyumnya.

Ia emosional, terburu-buru dalam mengambil keputusan, sulit diatur, dan sering kali tidak tegas. Yang paling membuatku resah: ia seperti tak punya prinsip yang jelas. Mudah goyah. Mudah dipengaruhi.

Wajar saja jika teman-teman sering kesal padanya. Kadang mereka menggerutu, kadang mencibirnya terang-terangan. Tapi Farel seperti tembok, seolah-olah semua itu tidak pernah benar²  menyentuhnya.

Kecuali teman-teman lelakinya. Aku sering melihat mereka saling menepuk punggung, bercanda, atau sekadar duduk diam bersama. Mereka seperti benteng bagi Farel, meskipun Farel sendiri tampak tak sadar bahwa ia sedang dilindungi.

Pandangan Terbalik?
Setahun berlalu, dan setelah liburan panjang yang terasa seperti sekejap, nasib membawaku duduk tepat di belakang farel

Lucu, bagaimana jarak duduk bisa mengubah jarak pandang.

Dari bangku itu, aku mulai melihat sisi lain dari dirinya

Terdengar lebay, mungkin. Tapi saat itu, aku benar-benar merasa seperti sedang mengamati objek penelitian.

Setiap hari, pertanyaan-pertanyaan kecil meluncur dari mulutku:
“Kamu kesel?”
“Kamu marah?”
“Kamu kenapa?”
“Kamu bisa?”
“Susah nggak?”

Aku ingin tahu, bukan hanya tentang jawabannya, tapi tentang bagaimana cara dia menjawab.

Tanpa kusadari, aku mulai sering tertawa karena lelucon-leluconnya. Entah dia sadar atau tidak, setiap kali aku  menertawakannya, aku juga menepuk atau mengusap bahunya. Gestur kecil, tapi bagiku itu seperti cara diam untuk bilang: "Kamu nggak sendiri."

Bahwa di balik semua keraguan dan trauma yang ada dalam dirinya, ada potensi yang belum dia lihat. Yaa, walaupun dia agak manja.

Aku suka caranya berbicara tentang politik, perang, TNI, Polri, jabatan, negara, atau bahkan barisan belakang. Ada semangat di matanya setiap kali dia menjelaskan, seolah dia sedang memegang peta besar dunia dan ingin menunjukkannya padaku, satu persatu.

Sayangnya, orang lain tak melihat itu.
Yang mereka lihat hanyalah nilai kimia Farel yang merah, dan kelakuannya ketika marah.

Romantisme?
Dan entah sejak kapan, "Bub" jadi panggilan sehari-hari kami.

Yang lebih gila, dia mulai memanggilku dengan sebutan "istriku."
Tanpa canggung, tanpa ragu, seolah olah itu hal yang paling wajar di dunia.
Awalnya aku ingin protes, menegur, atau pura pura gak dengar. Tapi entah kenapa, aku malah terbiasa.

"Aku mau punya anak sebelas, Bub," katanya suatu siang, seakan-akan itu kalimat logis.

Belum lagi tulisan Aisyha ❤️ Farel yang memenuhi buku tulis kami.
Kadang aku bertanya-tanya, bagaimana caranya aku masih bisa bertahan dengan teman seperti ini.

Dia hanya tertawa, lalu menaikkan sebelah alisnya seperti biasa saat sedang merencanakan kekonyolan berikutnya.
"Nanti kita nikah di Genta Buana," ujarnya dramatis.

Aku hanya tertawa, selalu bgitu.

Bagaimana akhirnya?
Sekarang, setelah semua tawa, panggilan aneh, dan percakapan panjang yang kadang tak masuk akal itu berlalu, aku menulis ini.

Bimantara artinya penguasa langit. Tapi aku rasa, kamu lebih dari itu.
Kamu bukan cuma menatap langit, kamu berusaha mengerti tanah di bawahmu, orang-orang di sekitarmu, dan luka yang tak pernah kamu tunjukkan pada siapa pun.

Eakkk





Note :
1. Jangan kepedean ya rel
2. Jangan males baca ya rel
3. Jangan ngeliatin tobrut mulu ya rel
4. Jangan durhaka ya rel
5. Jangan gonta ganti pacar mulu ya rel
6. Jangan lupa, hrs softspoken ya rel

Jumat, 16 Mei 2025

PRAJA DI DALAM FILM

"Bisa gak sih, sehari aja ga nulis?" Otakku berteriak kencang dari balik tengkorak.

Menulis dan bernapas, bagiku tak ada bedanya.  Seperti... masa lalu, masa depan, masa kini, bagiku sama-sama masa. 

"Jadi gimana cara cepet move on?" Tanya temanku dengan Sampoerna Mild yang terhimpit di jarinya. Ya, dia laki-laki.

Aku terkekeh mendengarnya. Bahkan, dari awal berpisah, aku tidak ada niat untuk move on.

Ada saatnya kita lupa. Namun, jika suatu hari kenangan itu menyelinap kembali, mengguncang dada tanpa permisi, biarlah. Namanya manusia, diberkahi memori yang tak pernah benar-benar mati.

Perpisahan, di detik pertama, bukan sekadar kehilangan. Rasanya seperti ada bagian dari jiwa yang tercabik. Amigdala dalam otak bekerja gila-gilaan, memuntahkan rasa sakit yang tak terdefinisikan. Bukan hanya di hati, tapi menjalar ke tenggorokan, dada, bahkan napas. Dan pada saat itu, dunia tak benar-benar hening. Ia berisik—oleh bayangan, oleh rindu—pftttt. Bukannya menangis, aku malah tertawa sendiri jika ingat.

“Cara cepet move on tuh, gini…" kataku dengan senyum tipis, seolah aku tahu caranya. Padahal nyatanya, aku sedang berdusta—lagi.

Kenyataannya, aku belum benar-benar pergi dari luka itu. Hatiku masih tertambat di hari-hari yang tak ingin kuingat tapi tak bisa kulupakan.

“Tau gak, bedanya hati gua sama kuburan?” tanyanya tiba-tiba, di sela asap rokok yang mengepul pelan dari bibirnya.

Aku melirik malas. “Gombal.”

“Belom, sinting,” katanya, tertawa kecil. Giginya rapi, terlalu kontras dengan candaannya yang receh.

“Di kuburan ada setan, di hati gua ada kesepian.”
Tawa meledak dari mulutnya. Seakan candaan itu benar-benar lucu. Tapi matanya tak ikut tertawa.

Dan saat itu, aku sadar, barangkali dia tidak benar-benar sedang bercanda.

“Ceritain aja,” kataku, menatap matanya dalam-dalam. Aku tahu—ia sedang menyembunyikan sesuatu. Otak laki-laki memang tak dirancang untuk bicara panjang. Hipotalamus mereka berbeda. Kadang, diam jadi satu-satunya cara bertahan. Tapi aku bisa merasakan, ada beban yang sedang menjeratnya pelan-pelan.

Dia mengalihkan pandangannya ke langit malam, menghembuskan asap rokok seperti sedang merapal mantra. “Takut setan gak?” tanyanya tiba-tiba. Lagi-lagi, terdengar receh.

Tapi aku menanggapinya serius. “Setan itu sifat. Hantu itu materi fisik. Jadi, yang mana?” 
Aku sengaja menjawab begitu—ingin obrolan ini lebih berbobot.

“Orang takut kuburan karena ada hantu,” katanya, melirikku sekilas, lalu menyambung dengan nada menggoda, “Hantu yang materi fisik”

Aku mendengus, siap membalas, tapi kalimat berikutnya memukul lebih keras dari yang kuduga.
“Beda ceritanya kalau orang yang kita sayang ada di dalem kuburan.”

Jleb. Di luar prediksi BMKG. Aku diam sesaat.

“Ngerti gak?” tanyanya, seolah meragukan kemampuanku menyerap makna kata.

Aku menghela napas pelan, lalu menjawab, “Iya tau.” 

Aku menatap lurus ke depan, mencoba terdengar lebih tenang daripada yang sebenarnya kurasa. “Maksudnya, setelah kehilangan, kuburan tidak lagi menyeramkan… kalau di dalamnya ada raga yang kita sayang.” aku pernah membaca ini di tiktok.

Dia tidak langsung menimpaliku. Hanya menatap ujung rokok yang tinggal separuh, lalu membuang napasnya pelan.

“Gua tuh heran,” katanya akhirnya, suaranya pelan, hampir kayak bisikan. “Kenapa ya… orang yang ninggalin kita, bisa tenang di sana, tapi kita yang ditinggal, harus terus hidup kayak mayat hidup?” Entahlah, mungkin jika tidak memiliki ego, lelaki disampingku ini sudah menangis tersedu-sedu.

Aku....ingin memeluknya. 

Ya ampun, kenapa love languange ku phsycal touch? Kata ibuku 'Tidak boleh bersentuhan dengan lawan jenis'. 

Dan dia… dia teman dekatku. Bukan orang asing. Tapi juga bukan yang halal.
Jadi aku tahan. Lebih baik simpan pelukan itu di  dalam do'a “Tolong jaga dia. Peluk dia, kalau aku belum bisa.”

Ia hanya melirikku, belum sempat berkata apa-apa ketika jariku menyentil rokoknya hingga terjatuh ke tanah.

Praja. Bukan tokoh di dalam film. Dia nyata, disampingku. Iya, lelaki sebaik itu. 
Jika dideskripsikan dengan gaya Pram, Praja itu....

Ia lelaki muda dengan sorot mata hitam pekat, seperti sumur tua yang menyimpan banyak rahasia dan dendam yang belum lunas. Tatapannya tajam, bukan karena kemarahan, tapi karena hidup telah memaksanya belajar menilai dunia lebih cepat dari semestinya. Tubuhnya tegap, sekitar 177 sentimeter, dengan dada bidang, otot bisep dan trisep yang terbentuk bukan dari alat olahraga, melainkan dari kerja keras yang tak pernah banyak ditanya asalnya.

Wajahnya bersih, kulitnya sawo matang, seperti mereka yang tumbuh di bawah matahari kampung tapi tau cara menjaga diri. Hidungnya biasa saja, tidak bangga dan tidak malu, sedang-sedang saja seperti sikapnya terhadap hidup. Ia bukan lelaki tampan menurut ukuran umum, tapi ada sesuatu dalam senyumnya—sejuk dan jujur—yang membuat orang tak ingin buru-buru pergi setelah menatapnya.

Ia selalu memakai celana bahan dan kaos oblong murahan, entah karena pilihan atau keterpaksaan ekonomi. Sendal Swallow merah adalah sahabat setianya, jejak ke mana pun ia pergi, dari warung kopi sampai musala kecil di ujung gang. Wangi tubuhnya selalu ditingkahi aroma parfum Axe cokelat, wangi maskulin yang terlalu berusaha keras, seperti dirinya—berusaha terlihat biasa saja di antara gelimang harta yang dimilikinya.

Mau dikenang di mana lagi, Praja?

Rabu, 07 Mei 2025

MALAM PERTAMA BERSAMA TAN MALAKA

Bukan di hotel mewah, bukan di bawah bintang. Tapi di kamar sederhana dengan suara kipas angin yang menggebu-gebu.

Aku duduk bersila di kasur, menatap halaman pertama Madilog. Dan di situlah, malam itu, aku jatuh cinta. Bukan pada sosok, tapi pada ide. Bukan pada wajah, tapi pada logika.


Malam itu, untuk pertama kalinya, aku merasa ditemani oleh seseorang yang benar-benar paham tentang revolusi dan tanah air.

Namanya: Tan Malaka. (Ibrahim Datuk Tan Malaka)

                              ---------------

Aku masih tak percaya. Awalnya hanya memandang Tan dari jauh di gramedia. Membatin, ingin memiliki,  tapi saat itu... Aku belum bisa.

Akhirnya, aku melangkah pergi dengan dada yang masih menggantung.

Setahun berlalu.

Aku bertemu seorang teman. Lelaki yang, dari caranya berbicara, cara berpikir, cara mempertanyakan dunia—terlihat...kiri?

Namanya Desta Esaputra Mahendra.
Dan ternyata, dialah yang kelak mempertemukanku dengan Tan Malaka.

“Kamu suka Tan Malaka juga?” tanyanya suatu malam lewat pesan singkat.

“Iya, Des. Aku suka banget. Tapi aku belum punya bukunya...” balasku cepat. Ada antusiasme, ada getir.

Tak butuh waktu lama untuknya membalas.

...Desta send a picture (Daftar Isi Madilog)
“Aku punya Madilog. Kalo kamu mau, kamu bisa baca punya aku syah.”

Hatiku menghangat, “Mauuuuu😍” ya ampun aku sangat antusias.

“Tapi aku sendiri kurang ngerti sih,” Desta membalas.  “Bahasanya agak susah.” tambahnya.

Sekelas Desta—yang namanya selalu bertengger di peringkat pertama— saja merasa kesulitan membaca Madilog.
Lalu bagaimana denganku?

Ah, dont care about it. Yang penting, kumiliki dulu. Soal nanti paham atau tidak, biarlah jadi urusan malam-malam berikutnya.

Terkadang, memiliki sesuatu yang kita yakini penting—meski belum sepenuhnya kita mengerti—adalah bentuk awal dari komitmen.

Malam itupun tiba, kamar menjadi saksi.  Di tanganku, tergeletak buku itu—Madilog.
Bukan sekadar buku. Ini adalah pertemuan yang kutunggu sejak lama. Sebuah malam pertama… bersama Tan Malaka.

Jantungku tak seharusnya berdebar hanya karena lembar kertas. Tapi nyatanya, ada sesuatu yang menggigil halus saat jemariku menyentuh sampulnya.
Sebagian diriku merasa belum siap. Tapi rasa ingin tahu mengalahkan segalanya.

Aku membuka halaman pertama dengan hati-hati, seakan menyentuh sesuatu yang sakral. Lalu, aku mulai membaca.

Dan di situlah aku sadar—Tan tidak sedang berbisik lembut. Ia menatapku tajam. Ia langsung menusuk ke dalam kepalaku dengan tiga kata: Materialisme. Dialektika. Logika.

Bukan rayuan, bukan pengantar manis, tapi tamparan. Bahwa berpikir bukan tentang merasa paling pintar, tapi tentang meruntuhkan semua asumsi yang kita kira kebenaran.

Bahwa memahami dunia bukan sekadar mencatat—tapi menggugat.

Aku mendesah pelan, tersenyum getir.
Begini ya rasanya, disentuh pertama kali oleh pemikiran yang benar-benar hidup?

Tiba di bagian Logika Mistika, aku tertegun.

Inilah bab yang seolah paling dekat dengan hidupku. Dengan lingkungan tempatku dibesarkan. Dengan keluarga besarku yang masih begitu erat menggenggam mistik dan takhayul sebagai warisan yang tak boleh digugat.

Katanya, jangan duduk di depan pintu nanti susah jodoh. Jangan menyapu malam-malam, nanti rezekinya hilang. Jangan bicara terlalu keras saat magrib, nanti disamber setan.

Di sini, Tan Malaka datang sebagai pembongkar kepercayaan turun-temurun. Ia tidak menghina, tapi menguliti satu per satu cara berpikir yang dibungkus oleh rasa takut.

Katanya, “Kita jangan melawan mistik hanya dengan anti-mistik. Tapi kita hadapi dengan logika. Dengan pengetahuan.”

Ah, Tan, andaikan kau hidup di zaman sekarang. Di mana neurosains sudah menjadi bahasa baru untuk menjelaskan “kerasukan”  yang dulu dianggap ulah jin.

Sekarang kami menyebutnya dissociative trance disorder—sebuah kondisi psikologis di mana seseorang keluar dari kesadarannya. Bisa secara sengaja atau tidak disengaja.

Tapi bahkan hari ini, penjelasan ilmiah itu dianggap terlalu ‘barat’, terlalu ‘tidak beradab’. Dan suara seperti milikmu, Tan, tetap dianggap sebagai pengganggu tradisi, bukan penyelamat cara berpikir.

Aku menutup halaman itu sejenak, menarik napas panjang. Tidak mudah memihak nalar, saat perasaan sudah terbiasa berlindung di balik mistik. 

Malam-malam berikutnya, aku masih bersama Tan. Buku Madilog kini tak lagi terasa asing. Meski belum sepenuhnya kumengerti.

Baru malam ke 4 saja, aku sudah kelelahan. Bukan karena terlalu rumit, tapi karena terlalu jujur. Terlalu menggugah.

Intinya, Tan memulainya dari dasar: 
Materialisme. Bagaimana kita harus berpikir berdasarkan kenyataan, bukan angan-angan. Ia tak menolak keyakinan, tapi ia ingin kita tak mudah larut dalam dogma. Bahwa segala sesuatu harus diuji: apakah itu nyata, atau hanya warisan pikiran yang tak pernah kita pertanyakan?

Ia menyebut mistik sebagai bentuk kemalasan berpikir. Tapi bagiku, itu bukan penghinaan—itu ajakan untuk berani berpikir sendiri.

Dan yang paling mengguncangku, adalah dialektika. Ah, ini bagian yang membuatku merasa benar-benar berdialog dengan Tan.
Bahwa segala sesuatu di dunia ini bergerak karena pertentangan. Bahwa kebenaran bukan diam di satu tempat, tapi terus berubah, berkembang, dan bertumbuh dari perbedaan.

Hidup adalah pertarungan antara tesis dan antitesis. Dan di antaranya, kita menemukan arah baru: sintesis.

Itu semua baru sampai Bab 5.
Tapi sejujurnya, seolah sudah cukup membuatku merasa… ditampar.

Malam keempat, rupanya jadi malam terakhirku bersama Tan. Aku tak sempat menyelami logika yang ia tawarkan—tak sempat mendalami "log" dari Madilog.

Untuk sekarang, biarlah ia tetap bernama Madi. Karena  logikanya belum sempat tinggal lama di sini.
 
                         -------------------

Pulang sekolah. Langit sudah menguning
Aku melihat sosok itu dari kejauhan—seragam kotak hijau, langkahnya santai, dan tas hitam andalan tergantung di punggungnya. Desta.

Aku berlari kecil, menghampirinya.
“Des!” panggilku.

Ia menoleh, sedikit terkejut.
“Kenapa syah?”

Aku mengangkat buku itu—Madilog, dengan sampul merahnya yang mulai lusuh di ujung-ujungnya. “Mau balikin Tan Malaka.”

Tatapan Desta berubah. Sedikit kaget.
“Emang udah selesai, Syah?” tanyanya pelan.

Aku tersenyum, tapi tak bisa menyembunyikan sedikit rasa sesal.
“Belum. Baru sampe bab lima. Aku harus nulis naskah buat film PKN. Takut ke-distract.”

Desta diam sejenak. “Yaudah... pegang aja dulu, Syah.”
Seperti ada makna lain di balik kalimatnya. Seolah ia ingin bilang: sayang banget, kamu belum sepenuhnya kenal Tan...

Aku menggeleng, pelan. “Nggak usah, Des. Kapan-kapan aja”

Desta mengangguk kecil, lalu membalikkan tubuhnya sedikit, “Oke deh. Tolong Masukin aja ke tas aku, Syah.” 

Aku segera membuka resleting tasnya, dan memasukkan buku itu perlahan. Jemariku tak sengaja menyentuh bekas lipatan kertas di dalamnya. Aku menarik napas, lalu menutup tasnya kembali.

Apapun itu, mau Elias Fuentes, Ossorio, Tan Minh Sion, Tan Ho Seng, atau bahkan Ilyas Hussein. Tan Malaka tetap Tan Malaka yang logikany belum kubaca.

Terima kasih ya, Des. Untuk pertemuan singkatku dengan Tan.












Pesan :
Jujurly sedih bgttt. Dan faktanya sampe sekarang aku blm ngelanjutin madilog!
Not sure if you still remember that moment… but either way, 
Arigathanks untuk Destaesa😍




Selasa, 06 Mei 2025

MENENGAH TER-AKHIR

Debu bergulung di sepanjang jalan Cileungsi-Klapanunggal pagi ini. Langit biasa saja, tapi entah kenapa semuanya terasa lambat.

Aku menyetir motor, membonceng Nanda, sambil sesekali melirik ban yang sudah kekurangan angin sejak kemarin. Tak sempat dipompa. Sudah tak penting rasanya.

Hari ini aku memakai seragam putih abu untuk terakhir kalinya. Tak ada upacara kelulusan. Tak ada bunga-bunga perpisahan. 

Tidak ada suara gamelan atau nyanyian "Doa Perpisahan" seperti yang pernah kualami di masa SMP. Kami hanya datang untuk menandatangani lembar kelulusan.

Selesai. Begitu saja.

Lalu kami diberi buku tahunan. Yang harganya 375 ribu. Warnanya mencolok, desainnya ramai, tapi isinya terasa datar.
Foto-foto penuh senyum yang anehnya tak lagi terasa hidup. Hambar. Bahkan sedikit getir.

Tapi ada satu hal yang kutunggu sejak pagi: Pak Hasan. Guru sejarah di SMA ku.

Aku dan Syadenia mencari beliau ke ruang guru, menunggu dengan tenang seperti biasa. Saat akhirnya bertemu, aku tersenyum dan mengulurkan sebuah buku. Isinya catatan materi yang selama ini beliau berikan.

“Pak, saya minta tanda tangan ya,” kataku.

Beliau menatapku, "Apa ini? Coba saya baca-baca dulu" katanya, dan segera berlalu ke dalam ruangan.

Aku tak tahu beliau sadar atau tidak, bahwa aku mencatat semua materi sejarahnya dari kelas 10 sampai kelas 12. Tanpa diminta, tanpa ada yang tahu. Bahkan mungkin aku satu-satunya siswa yang melakukannya. Karena di tengah rutinitas sekolah yang kadang terasa hampa, pelajaran beliau selalu membuatku merasa hidup. Sebenarnya di Smanek, belajar sejarah saja aku sudah cukup.

Pak Hasan keluar ruangan, aku menyodorkan pulpen, kita bertiga malah duduk di depan kantor guru. 
Dan beliau menandatangani catatanku. Kecil sekali.

“Ini apa, Aisyha? Filsafat?” tanya Pak Hasan sambil membalik-balik halaman buku catatanku yang sudah lusuh di pinggirannya.

Aku hanya tersenyum kecil, sebelum Syadenia menimpali, “Wah, itu sih... emang bidangnya, Pak!” Nada suaranya meninggi, seolah sedang mempromosikanku jadi penerima Nobel.

Pak Hasan terkekeh pelan. “Dunia sophie paling dasar tuh, dan paling gampang dimengerti" kata pak Hasan. 

Aku mengangguk. Itu buku pertama yang membuat filsafat terasa seperti percakapan sore hari yang bisa dimengerti oleh remaja tanggung seperti aku.

“Kalau buku filsafat yang tebal-tebal itu,” lanjutnya, “kadang malah bikin bingung sendiri. Kebanyakan muter-muter.”

Obrolan kami mengalir ringan. Sederhana, tapi hangat. Tak butuh waktu lama, satu narasumber lain ikut bergabung. Pak Sunardi. 

Entah siapa yang lebih dulu memancing topik, tapi tiba-tiba kami seperti sudah duduk di meja diskusi kecil, dan saling bertukar ide.

Topik pun mengalir ke soal kuliah.
"Tadinya saya mau nembak tuh, masuk UI fakultas kedokteran!" ujarku penuh tawa.
Pak Hasan menatapku sejenak, lalu berkata dengan nada santai, “Masuk UI boleh, tapi ambil Sastra Jawa aja.”
Aku terkekeh.

Tipikal Pak Hasan—selalu menyelipkan sesuatu yang tak terduga.
Bukan meremehkan, aku tahu. Justru itu caranya bercanda: melempar pilihan yang terdengar acak, tapi diam-diam memancing reaksi.

Pak Sunardi duduk tak jauh, ikut menyimak. Beliau memberi saran dan menjelaskan sedikit filosofi bukunya yang berjudul 30 Hari.

“Coba baca La Tahzan, bagus itu,” katanya.
Aku mengangguk. Tapi dalam hati, aku tahu—judulnya saja sudah terlalu tenang. Terlalu manis. Kurang kiri, pikirku.
Bukan buku yang biasanya kugunakan untuk menantang pemikiran. Tapi tetap, akan ku coba.

“Kalo Aisyha, nggak ikut ekskul apa-apa ya?” tanyanya, seperti menggali pelan-pelan.

Aku ingin tertawa. Bahkan kenyataannya, aku sempat keluar dari satu ekskul hanya demi fokus ke yang lain.
Terlalu banyak hal yang kupilih dengan penuh pertimbangan—dan pengorbanan.

“Syaden juga bagus sih,” tambah Pak Sunardi, “anak pramuka. Jago survive.”
Tawanya ringan, diikuti tawa Syaden yang tak kalah ceria.
“Aisyha juga pernah, Pak, tertarik masuk pramuka,” ujar Syaden sambil melirikku, penuh kenangan kecil.

Gila saja, obrolan kami ternyata belum selesai.
Dari topik kuliah, tiba-tiba melompat ke teori konspirasi, dan bermuara pada sejarah dunia yang disembunyikan.

“iya ,VOC itu BUMN-nya Belanda,” celetuk Pak Hasan. Aku terkekeh, tapi Pak Sunardi justru menanggapi serius, “Iya, dari zaman itu juga, korupsi udah jadi budaya.”
Pak Hasan mengangguk pelan, menambahkan, “Korupsi selalu ada di setiap masa. Tinggal bentuk dan siapa pelakunya yang berganti.”

Aku mengangguk, lalu menatap Pak Hasan dengan pertanyaan yang sejak lama ingin kutanyakan.
“Menurut Bapak, Tan Malaka itu pahlawan atau bukan?”

“Iya dong. Pahlawan,” jawab mereka hampir bersamaan.
Aku tersenyum lega. Entah kenapa, aku butuh mendengar itu. Butuh diyakinkan bahwa idealisme Tan tak sia-sia di mata guru-guruku.

Aku melirik ke arah Syaden yang sejak tadi lebih banyak diam dan senyum. Manis sekali.

Lalu aku menatap Pak Hasan lagi, mataku membulat antusias.
“Tapi Bapak percaya nggak, kalau nama asli Gajah Mada itu bukan Gajah Mada?”

Pak Hasan tertawa kecil. “Wah iya, itu. Bukan Gajah Mada. Terus Thomas Matulessy juga—”

“Muhammad Lessy,” potongku cepat.

Hening sebentar.
“Saya nggak percaya sih, Pak,” ujarku kemudian, jujur.
Pak Hasan tersenyum, “Saya percaya sih.”

Dan di situlah letak perbedaan kami.
Bukan soal benar atau salah. Tapi tentang bagaimana cara masing-masing dari kami menimbang narasi, menyaring sejarah, dan memilih mana yang layak dipercaya.

Aku sendiri tak percaya Thomas Matulessy itu Muhammad Lessy—keluarganya pun sudah pernah mengklarifikasi. Tapi entahlah. Di dunia ini, bahkan yang telah diklarifikasi pun masih bisa dipertanyakan.

Ponselku bergetar. Nanda menelepon—kode bahwa sudah saatnya pulang.
Di saat yang hampir bersamaan, Pak Hasan pamit sejenak menuju ruang Tata Usaha.
Tinggallah aku, Syaden, dan Pak Sunardi di bangku panjang yang mulai disapu angin siang.

Pak Yogo, Pak Mansyur, Pak Anta, Pak Sandi, dan Pak Andi sesekali melintas. Seperti figuran dalam film, mereka hadir tapi tak terlalu terlibat. Hanya lalu-lalang sunyi dalam cerita kami.

Aku ragu. Tapi akhirnya kutarik nafas, memberanikan diri.
“Yaudah, Pak… makasih ya,” ucapku sambil menjulurkan tangan ke arah Pak Sunardi.
Kami bersalaman. Aneh—aku biasanya tak terlalu yakin untuk berjabat tangan dengan guru laki-laki. Tapi kali ini sudah terlanjur. Lagipula, aku tadi juga sudah bersalaman dengan guru-guru lain.
Apa bedanya?

“Iya, Aisyha… Syaden… sukses selalu, ya,” katanya tulus.
“Iya Pak, makasih yaa,” sahut Syaden ramah.

Kami berjalan menjauh. Aku melangkah lebih dulu, sementara Syaden mengekor di belakang.

Langit Klapanunggal tampak biasa saja, tapi ada yang berubah di dalam diri.
“Ternyata lebih seru ya, belajar sambil ngobrol kayak tadi... daripada pas sekolah,” aku membuka percakapan.

“Iyalah, Sya,” jawab Syaden dengan nada yang tidak sekadar setuju, tapi juga mengandung perenungan.
“Kalau sekolah kan kita dipaksa, kaya harus memperhatikan, harus duduk diam. Kalau yang tadi tuh ngalir aja… nggak ada kekhawatiran apa-apa.”

Aku mengangguk pelan.
Benar juga. Mungkin kita tak butuh banyak ruang belajar baru—hanya butuh ruang aman, yang membuat kita merasa didengar tanpa harus selalu diuji.

Masa menengah akhir berakhir bukan dengan upacara megah, bukan pula dengan toga atau panggung wisuda.
Hanya dengan foto-foto seadanya—aku, Nanda, Syaden.
Kami berdiri di depan gapura Exsynus yang warnanya mulai pudar, tertawa karena hal-hal kecil yang dulu sering kami keluhkan.

Tanpa seremoni. Tanpa nama dipanggil satu per satu. Tapi entah kenapa, tetap terasa cukup.
Tanpa wisuda, kami tetap bahagia.

Mungkin karena kami tahu: yang abadi bukan seremoni, tapi kenangan. Dan hari ini, kami telah mengabadikannya.

Eakkkkk. Tamat.





Pesan:
Makasih buat Syadenia Rizky Putri yg udah jadi temen dalam Dhuha, Zuhur, Ashar di Smanek. Aku yakin, suatu saat cita-cita dan rencana yang selama ini kamu simpan itu akan terwujud. 

Makasih buat Nanda Rivaida Indriani. Wah ini sih udah kaya adek ku sendiri. Temen dalam suka duka. Aku yakin, suatu saat, kebaikan yang kamu kasih ke aku bakal berbalik 7000x lipat ke kamu.

Makasih banget buat bapak bapak yang ga pelit ilmu. Xixixix. Pak Hasan dan Pak Sunardi yang betah ya di Smanek. Kedepannya mungkin akan lebih berat karena bapak-bapak akan mendidik anak murid yang bangun tidur tontonannya tung tung saur, tiktok dll. Tapi tetep semangattt! Nanti saya bakal baca channel yt asisi ya namanya?

MENENGAH KEMBALI

Sama seperti 'Menengah Terakhir' namun kali ini hanya Nanda tanpa Syaden. Dia tidak ke Bogor sepertinya. Biarkan Syaden fokus kuliah...