Hidup ini tak pernah berjanji apa apa, kecuali...bahwa semuanya akan selesai, entah kapan.
Hari ini, izinkan aku menulis sejujurnya. Seolah-olah aku akan mati besok, dan tak sempat lagi menjelaskan apa pun pada siapa pun.
Aku meminta maaf dengan sangat kepada ibu dan ayahku. Unik sekali, kami semua anak pertama. Semuanya sama, dari rasa bahagia hingga rasa trauma. Maaf jika aku sering mengecewakan, selama jadi anak terlalu banyak rasa takut dan minim keberanian.
Ada banyak kalimat yang tercekat ketika aku ingin mengungkapkan ke ayah dan ibu. Itulah sebabnya jadi terdengar tidak enak dan berujung membuat sakit hati.
Terimakasih yah, bu, karena telah menjadi sebaik-baik contoh untukku. Di dunia luar, aku sering dipuji, dan dengan bangganya aku mengatakan "Oh iya, kebaikanku ini karena didikan dari ayah dan ibuku"
Aku tidak pernah menangis di hadapan dunia. Tapi, rumah ini, menajdi tempat teraman, tempat ternyaman yang kerap kali dibanjiri air mataku. Aku bersyukur karena ibu selalu bersedia menghapus air mataku. Ibu tidak suka air mata, "Kamu harus kuat" katanya.
Aku hidup hingga saat ini, dan aku berjanji, hanya akan mati jika Tuhan sudah menyiapkan surga untukku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar