Bagaimana awalnya?
Aku duduk di kursi paling depan ketika Bu Guru Kimia memperkenalkan murid baru.
Dia masuk dengan postur tinggi, kulit putih, rambut rapi, dan sepasang mata yang tak pernah bisa fokus pada satu titik.
"Farel Ari Bimantara," Murid baru itu menyebutkan namanya dengan senyuman. Itu seakan memberi kesan bahwa dia tidak terbebani dengan apa pun, seolah segala hal yang datang padanya hanya seperti angin yang lewat begitu saja.
"Kiw, udah punya pacar belum?" tanya Maureen, dengan nada jenaka yang sudah menjadi ciri khasnya.
Anak-anak yang lain di kelas menyoraki, tertawa, dan menganggapnya sebagai lelucon. Aku hanya diam, memikirkan hal lain.
Aku teringat arti kata 'bima' dalam bahasa Jawa, seperti penguasa, seorang yang berkuasa. Tapi apakah memang itu maksud namanya? Entahlah.
Lambat laun, aku mulai mengenal Farel. meskipun baru di permukaan. Ia ternyata bukan sosok yang tenang seperti senyumnya.
Ia emosional, terburu-buru dalam mengambil keputusan, sulit diatur, dan sering kali tidak tegas. Yang paling membuatku resah: ia seperti tak punya prinsip yang jelas. Mudah goyah. Mudah dipengaruhi.
Wajar saja jika teman-teman sering kesal padanya. Kadang mereka menggerutu, kadang mencibirnya terang-terangan. Tapi Farel seperti tembok, seolah-olah semua itu tidak pernah benar² menyentuhnya.
Kecuali teman-teman lelakinya. Aku sering melihat mereka saling menepuk punggung, bercanda, atau sekadar duduk diam bersama. Mereka seperti benteng bagi Farel, meskipun Farel sendiri tampak tak sadar bahwa ia sedang dilindungi.
Pandangan Terbalik?
Setahun berlalu, dan setelah liburan panjang yang terasa seperti sekejap, nasib membawaku duduk tepat di belakang farel
Lucu, bagaimana jarak duduk bisa mengubah jarak pandang.
Dari bangku itu, aku mulai melihat sisi lain dari dirinya
Terdengar lebay, mungkin. Tapi saat itu, aku benar-benar merasa seperti sedang mengamati objek penelitian.
Setiap hari, pertanyaan-pertanyaan kecil meluncur dari mulutku:
“Kamu kesel?”
“Kamu marah?”
“Kamu kenapa?”
“Kamu bisa?”
“Susah nggak?”
Aku ingin tahu, bukan hanya tentang jawabannya, tapi tentang bagaimana cara dia menjawab.
Tanpa kusadari, aku mulai sering tertawa karena lelucon-leluconnya. Entah dia sadar atau tidak, setiap kali aku menertawakannya, aku juga menepuk atau mengusap bahunya. Gestur kecil, tapi bagiku itu seperti cara diam untuk bilang: "Kamu nggak sendiri."
Bahwa di balik semua keraguan dan trauma yang ada dalam dirinya, ada potensi yang belum dia lihat. Yaa, walaupun dia agak manja.
Aku suka caranya berbicara tentang politik, perang, TNI, Polri, jabatan, negara, atau bahkan barisan belakang. Ada semangat di matanya setiap kali dia menjelaskan, seolah dia sedang memegang peta besar dunia dan ingin menunjukkannya padaku, satu persatu.
Sayangnya, orang lain tak melihat itu.
Yang mereka lihat hanyalah nilai kimia Farel yang merah, dan kelakuannya ketika marah.
Romantisme?
Dan entah sejak kapan, "Bub" jadi panggilan sehari-hari kami.
Yang lebih gila, dia mulai memanggilku dengan sebutan "istriku."
Tanpa canggung, tanpa ragu, seolah olah itu hal yang paling wajar di dunia.
Awalnya aku ingin protes, menegur, atau pura pura gak dengar. Tapi entah kenapa, aku malah terbiasa.
"Aku mau punya anak sebelas, Bub," katanya suatu siang, seakan-akan itu kalimat logis.
Belum lagi tulisan Aisyha ❤️ Farel yang memenuhi buku tulis kami.
Kadang aku bertanya-tanya, bagaimana caranya aku masih bisa bertahan dengan teman seperti ini.
Dia hanya tertawa, lalu menaikkan sebelah alisnya seperti biasa saat sedang merencanakan kekonyolan berikutnya.
"Nanti kita nikah di Genta Buana," ujarnya dramatis.
Aku hanya tertawa, selalu bgitu.
Bagaimana akhirnya?
Sekarang, setelah semua tawa, panggilan aneh, dan percakapan panjang yang kadang tak masuk akal itu berlalu, aku menulis ini.
Bimantara artinya penguasa langit. Tapi aku rasa, kamu lebih dari itu.
Kamu bukan cuma menatap langit, kamu berusaha mengerti tanah di bawahmu, orang-orang di sekitarmu, dan luka yang tak pernah kamu tunjukkan pada siapa pun.
Eakkk
Note :
1. Jangan kepedean ya rel
2. Jangan males baca ya rel
3. Jangan ngeliatin tobrut mulu ya rel
4. Jangan durhaka ya rel
5. Jangan gonta ganti pacar mulu ya rel
6. Jangan lupa, hrs softspoken ya rel
Tidak ada komentar:
Posting Komentar